KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah, merupakan satu kata yang sangat
pantas penulis ucakan kepada Allah swt karena bimbingannyalah maka penulis bisa
menyelesaikan sebuah Makalah berjudul “Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat
Ilmu”
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan
terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam
menyelesaikan penelitian ini, khususnya kepada : Bapak Prof. Dr. Syamsul
Arifin, M.Si selaku dosen mata kuliah filsafat ilmu yang telah meluangkan
waktu, tenaga dan pkiran dalam pelaksanaan bimbingan, pengarahan, dorongan
dalam rangka penyelesaian penyusunan makalah ini.
Saya menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang
mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu saya mengundang pembaca untuk
memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu
pengetahuan ini.
Terima kasih, dan semoga makalah ini bisa memberikan
sumbangsih positif bagi kita semua.
Cianjur, Oktober 2017
Penulis
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
A. Latar
Belakang Masalah ........................................................................................ 1
B. Rumusan
Masalah ........................................................................................... 2
C. Tujuan
Pembahasan .............................................................................................. 2
BAB II
PEMBAHASAN ......................................................................................... 3
A. Pengertian
Filsafat
Ilmu ....................................................................................... 3
1. Pengertian
Filsafat ........................................................................................... 3
2. Pengertian
Ilmu ................................................................................................ 4
3. Pengertian
Filsafat Ilmu ................................................................................ 5
4. Persamaan dan Perbedaan
Filsafat dan
Ilmu ................................................... 6
B. Ruang
Lingkup Filsafat
Ilmu ............................................................................... 8
1. Komponen
Filsafat Ilmu ................................................................................ 8
2. Objek Filsafat
Ilmu ........................................................................................ 12
3. Tujuan Filsafat
Ilmu ....................................................................................... 13
BAB III PENUTUP ................................................................................................. 15
A.
simpulan ........................................................................................................... 15
B.
saran
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 16
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling
berkaitan, baik secara subtansial maupun historis, hal itu dikarenakan bahwa
kelahiran ilmu tidak lepas dari sebuah peranan dari filsafat dan sebaliknya
perkembangan ilmulah yang memperkuat keberadaan dari filsafat itu sendiri.
Kelahiran filsafat di Yunani mengubah pola pikir bangsa Yunani dari pandangan
yang mitos menjadi rasio. Dengan filsafat pula pola pikir yang selalu
tergantung pada yang ghaib diubah menjadi pola pikir yang tergantung pada
rasio.
Perubahan dari pola pikir mitos ke rasio membawa
implikasi yang tidak kecil. Alam dengan segala gejalanya yang selama itu
ditakuti sekarang didekati dan bahkan bisa dikuasai. Perubahan yang mendasar
adalah ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah yang mejelaskan
perubahan yang terjadi, baik alam semesta maupun pada manusia itu sendiri.
Filsafat ilmu merupakan cabang filsafat yang berusaha
mencerminkan segala sesuatu secara dasar denganberbagai persoalan mengenai ilmu
pengetahuan, landasan dan hubungan dari segala segi kehidupan manusia. Filsafat
ilmu merupakan penerus dalam pengembangan filsafat pengetahuan, itu disebabkan
pengetahuan tidak lain adalah tingkatan yang paling tinggi dalam perangkat
pengetahuan manusia.
Oleh karena itu mempelajari ilmu filsafat membuka candela
ilmu pengetauan untuk lebih mengerti, memahami dan dapat memanfaatkan ilmu
untuk kebaikan diri sendiri, orang lain, alam semesta terutama untuk Allah
swt. Berdasarkan hal di atas, maka makalah ini akan menguraikan pengertian
dari filsafat ilmu, dan ruang lingkup dari filsafat ilmu tersebut.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis
merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apakah
pengertian filsafat ilmu?
2. Bagaimana
ruang lingkup filsafat ilmu?
C. Tujuan
Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan
pembahasan dalam makalah ini adalah :
1. Untuk
mengetahui pengertian dari filsafat ilmu.
2. Untuk
mengetahui ruang lingkup filsafat Ilmu.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Filsafat Ilmu
Pengertian filsafat ilmu dalam sejarah perkembangan
pemikiran kefilsafatan, antara satu ahli filsafat dan yang lainnya selalu
berbeda pendapat dan hampir sama banyaknya dengan ahli filsafat itu sendiri.
Oleh karena itu pengertian filsafat ilmu dapat ditinjau dari dua segi yakni
secara etimologi dan terminologi. Akan tetapi sebelum membahas masalah
pengertian filsafat ilmu akan lebih baiknya kita mengetahui apa itu pengertian
dari filsafat dan ilmu.
1. Pengertian
Filsafat
Kata filsafat yang dalam bahasa Arab falsafah,
yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilahphilosophy, adalah
berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia. Kata philosopia terdiri
atas kata philein yang berarti cinta (love) dan sophia yang
berarti kebijaksanaan (wisdom), sehingga secara etimologi filsafat
berarti cinta kebijaksanaan (love of wisdom) dalam arti yang khusus dari
seorang filsuf adalah pecinta atau pencari kebijaksanaan. Kata filsafat pertama
kali digunakan oleh Pyhthagoras (496-582 SM).
Secara terminologi pengertian filsafat menurut para
filsuf sangat beragam, Al-Farabi mengartikan filsafat sebagai ilmu tentang alam
maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya. Ibnu Rusyd
mengartikan filsafat sebagai ilmu yang perlu dikaji oleh manusia karena dia
dikaruniai akal. Immanuel Kant mengartikan filsafat sebagai ilmu yang menjadi
pokok pangkal dari segala pengetahuan yang di dalamnya mencakup masalah epistimologi
yang menjawab persoalan apa yang dapat kita ketahui.
Aristoteles mengartikan filsafat sebagai ilmu yang
meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika,
retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Adapun Ali Mudhofir
mengartikan filsafat sebagai suatu sikap terhadap kehidupan dan alam semesta,
sebagai suatu metode, sebagai kelompok persoalan, sebagai analisis logis
tentang bahasa dan penjelasan makna, dan sebagai usaha untuk memperoleh
pandangan yang menyeluruh.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian filsafat adalah
ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam
dengan mempergunakan akal sampai pada hakikatnya. Filsafat bukannya
mempersoalkan gejala-gejala atau fenomena akan tetapi mencari hakikat dari
fenomena tersebut.
2. Pengertian
Ilmu
Ilmu berasal dari bahasa Arab yaitu ‘alima,
ya’lamu, ‚ilman dengan wazan fa’ila, yaf’alu yang
berarti mengerti, memahami benar-benar, seperti ungkapan berikut علم اصموعى درس الفلسفة (Asmu’i telah memahami
pelajaran filsafat). Dalam bahasa Inggris ilmu
disebut science, dari bahasa latin scientia-scire(mengetahui),
dan dalam bahasa Yunani adalah episteme.
Adapun beberapa definisi ilmu menurut para ahli di
antaranya adalah :
a) Ralph
Ross dan Ernest Van Den Haag, mendefinisikan ilmu adalah yang empiris,
rasional, umum dan sistematik.
b) Ashley
Montagu, Guru Besar Antropolog di Rutgers University menyimpulkan bahwa
ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari
pengamatan, studi dan percobaan untuk menentukan hakikat prinsip tentang hal
yang sedang dikaji.
c) Harsojo,
Guru Besar Antropolog di Universitas Pajajaran, menerangkan bahwa ilmu adalah
akumulasi pengetahuan yang sistematikan, suatu pendekatan atau metode terhadap
seluruh dunia empiris, dan suatu cara untuk menganalisis.
d) Afanasyef,
seorang pemikir marxist bangsa Rusia mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan
manusia tentang alam, masyarakat dan pikiran.
Dari beberapa pendapat tentang ilmu menurut para ahli
tersebut, dapat disimpulkan bahwa ilmu adalah sebagian pengetahuan yang
mempunyai ciri, tanda, syarat tertentu yaitu sistematik, rasional, empiris,
universal, objektif, dapat diukur, terbuka dan kumulatif.
3. Pengertian
Filsafat Ilmu
Cabang filsafat yang membahas masalah ilmu adalah
filsafat ilmu. Filsafat ilmu dapat dibedakan menjadi dua yaitu filsafat ilmu
dalam arti luas dan sempit, filsafat ilmu dalam arti luas yaitu menampung
permasalahan yang menyangkut hubungan luar dari kegiatan ilmiah, sedangkan
dalam arti sempit yaitu menampung permasalahan yang bersangkutan dengan
hubungan dalam yang terdapat di dalam ilmu. Banyak pendapat yang memiliki makna
serta penekanan yang berbeda tentang filsafat ilmu. Menurut Prof. Dr. Conny R.
Semiawan, dkk mengartikan filsafat ilmu dalam empat titik pandang yaitu
mengelaborasikan implikasi yang lebih luas dari ilmu, mengasimilasi filsafat
ilmu dengan sosiologi, suatu sistem yang di dalamnya konsep dan teori tentang
ilmu dianalisis dan diklasifikasi, dan suatu patokat tingkat kedua yang dapat
dirumuskan antara doing science danthinking tentang
bagaimana ilmu harus dilakukan.
Adapun The Liang Gie mendefinisikan
filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan mengenai
segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala
segi dari kehidupan manusia.
Untuk mendapatkan gambaran singkat tentang pengertian
filsafat ilmu dapat dirangkum menjadi tiga yaitu :
a) Suatu
telaah kritis terhadap metode yang digunakan oleh ilmu tertentu,
b) Upaya
untuk mencari kejelasan mengenai dasar-dasar konsep mengenai ilmu dan upaya
untuk membuka tabir dasar-dasar keempirisan, kerasionalan, dan kepragmatisan,
dan
c) Studi
gabungan yang terdiri atas beberapa studi yang beraneka macam yang ditunjukkan
untuk menetapkan batas yang tegas mengenai ilmu tertentu.
4. Persamaan
dan Perbedaan Filsafat dan Ilmu
Persamaan filsafat dan
ilmu adalah sebagai berikut :
a) Keduanya
mencari rumusan yang sebaik-baiknya menyelidiki objek selengkap-lengkapnya
sampai ke akar-akarnya.
b) Keduanya
memberikan pengertian mengenai hubungan yang ada antara kejadian-kejadian yang
kita alami dan mencoba menunjukkan sebab-sebabnya.
c) Keduanya
hendak memberikan sintesis, yaitu suatu pandangan yang bergandengan.
d) Keduanya
mempunyai metode dan sistem.
e) Keduanya
hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan keseluruhan timbul dari hasrat
manusia, akan pengetahuan yang lebih mendasar.
Adapun perbedaan
filsafat dan ilmu adalah sebagai berikut :
a) Objek
material filsafat bersifat universal, sedangkan objek material ilmu bersifat
khusus dan empiris.
b) Objek
formal filsafat bersifat nonfragmentaris, sedangkan objek formal ilmu bersifat
fragmentaris, spesifik, dan intensif.
c) Filsafat
dilaksanakan dalam suatu suasana pengetahuan yang menonjolkan daya spekulasi,
kritis, dan pengawasan, sedangkan ilmu haruslah diadakan riset lewat
pendekatan trial and error.
d) Filsafat
memuat pertanyaan lebih jauh dan lebih mendalam berdasarkan pada pengalaman
realitas sehari-hari, sedangkan ilmu bersifat diskursif yaitu menguraikan
secara logis yang dimulai dari tidak tahu menjadi tahu.
e) Filsafat
memberikan penjelasan yang terakhir, mutlak, dan mendalam sampai mendasar,
sedangkan ilmu menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam, lebih dekat
dan sekunder.
B. Ruang
Lingkup Filsafat Ilmu
1. Komponen
Filsafat Ilmu
Bidang garapan Filsafat ilmu terutama diarahkan pada
komponen‑komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu, tiang
penyangga itu ada tiga macam yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
1. Ontologi
Kata ontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu On
berarti being, dan Logos berarti logic. Jadi ontologi
adalah the theory of being qua being (teori tentang keberadaan
sebagai keberadaan). Sedangkan
menurut Amsal Bakhtiar, ontologi berasal dari kata ontos yang berarti sesuatu
yang berwujud. Ontologi adalah teori atau ilmu tentang wujud, tentang
hakikat yang ada. Ontologi tidak banyak berdasarkan pada alam nyata tetapi
berdasarkan pada logika semata.
Noeng Muhadjir mengatakan bahwa ontologi membahas tentang
yang ada, yang tidak terkait oleh satu perwujudan tertentu. Sedangkan jujun
mengatakan bahwa ontologi membahas apa yang kita ketahui, seberapa jauh kita
ingin tahu atau dengan kata lain suatu pengkajian mengenai teori tentang yang
ada. Sidi Gazalba mengatakan bahwa ontologi mempersoalkan sifat dan keadaan
terakhir dari kenyataan. Karena itu ontologi disebut ilmu hakikat, hakikat yang
bergantung pada pengetahuan. Dalam agama ontologi memikirkan tentang tuhan.
Jadi dapat disimpulakan bahwa ontologi adalah ilmu yang
membahas tentang hakikat yang ada yang merupakan kebenaran dan kenyataan baik
yang berbentuk jasmani atau konkret maupun rohani atau abstrak.
Ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf
Goclenius pada tahun 1636 M. untuk menamai teori tentang hakikat yang
ada yang bersifat metafisis. Dalam perkembangannya Christian Wolff (1679-1754
M) membagi metafisika menjadi dua, yaitu metafisika umum dan metafisika khusus.
Metafisika umum dimaksud sebagai istilah lain dari ontologi. Dengan demikian,
metafisika umum adalah cabang filsafat yang membicarakann prinsip yang paling
dasar atau dalam dari segala sesuatu yang ada. Sedangkan metafisika khusus
dibagi menjadi tiga yaitu kosmologi (membicarakan tentang alam semesta),
psikologi (membicarakan tentang jiwa manusia), dan teologi (membicarakan
tentang Tuhan).
2. Epistemologi
Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang
filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan,
pengendalaian-pengendalian, dan dasar-dasarnya serta pengertian mengenai
pengetahuan yang dimiliki, mula-mula manusia percaya bahwa dengan kekuatan
pengenalanya ia dapat mencapai realitas sebagaimana adanya. Mereka
mengandaliakan begitu saja bahwa pengetahuan mengenai kodrat itu mungkin,
meskipun beberapa di antara mereka menyarankan bahwa pengetahuan mengenai
struktur kenyataan dapat lebih dimunculkan dari sumber-sumber tertentu
ketimbang sumber-sumber lainya. Pengertian yang diperoleh oleh manusia melalui
akal, indra, dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan,
di antaranya adalah:
a) Metode
Induktif
Induktif yaitu suatu metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyataan
hasil observasi yang disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum.
b) Metode
Deduktif
Deduktif ialah suatu metode yang menyimpulkan bahwa
data-data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang
runtut.hal yang harus ada dalam metode deduktif adalah adanya perbandingan
logis antara kesimpulan itu sendiri.penyelidikan bentuk logis itu bertujuan
apakah teori tersebut mempunyai sifat empiris atau ilmiah.
c) Metode
Positivisme
Metode ini dikeluarkan oleh Agus Comte (1798-1857).
Metode ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, faktual dan positif. Ia
menyampaikan segala uraian atau persoalan di luar yang ada sebagai fakta.apa
yang diketahui secara positif adalah segala yang tampak dari segala gejala.
Dengan demikian metode ini dalam bidang filsafat dan ilmu dibatasi kepada
bidang gejala saja.
d) Metode
Kontemplatif
Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indera dan akal
manusia untuk memperoleh pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkan pun
berbeda-beda yang harusnya dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut
intuisi.
e) Metode
Dialektis
Dalam filsafat, dialektika mula-mula berarti metode tanya
jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Metode ini diajarkan oleh Socrates.
Namun Plato mengartikannya sebagai diskusi logika. Kini dialektika berarti
tahapan logika yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan, juga
menganalisis sistematik tentang ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam
pandangan.
3. Aksiologi
Aksiologi berasal dari bahasa Yunani yaitu axios yang
berarti nilai dan logos yang berarti teori. Jadi aksiologi
adalah “teori tentang nilai“. Menurut Bramel, aksiologi terbagi dalam tiga
bagian yaitu moral conduct(tindakan moral), esthetic
expression (ekspresi keindahan), dan sosio-political life (kehidupan
sosial politik).Sedangkan menurut Jujun S. Suriansumantri
dalam bukunya Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar mengartikan aksiologi sebagai
teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang
diperoleh. Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa
aksiologi disamakan dengan Value and Valuation. Ada tiga bentuk Value and
Valuation yaitu nilai yang digunakan sebagai kata benda abstrak, nilai sebagai
benda konkret, dan nilai digunakan sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai,
member nilai dan dinilai.
Dari definisi di atas terlihat jelas bahwa aksiologi
menjelaskan tentang nilai. Nilai yang dimaksud disini adalah sesuatu yang
dimiliki oleh manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai.
Nilai dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika.
Makna “etika“ dipakai dalam dua bentuk arti yaitu suatu
kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan manusia, dan suatu
predikat yang dipakai untuk membedakan hal, perbuatan manusia. Maka akan lebih
tepat kalau dikatakan bahwa objek formal dari sebuah etika adalah norma
kesusilaan manusia, dan dapat dikatakan pula bahwa etika mempelajari tingkah
laku manusia ditinjau dari segi baik dan tidak baik dalam suatu kondisi. Sedangkan
estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh
manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya.
2. Objek
Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu sebagaimana halnya dengan bidang-bidang
ilmu lainnya juga memiliki dua macam objek yaitu objek material dan objek
formal.
a) Objek
Material Filsafat ilmu
Objek Material filsafat ilmu yaitu suatu bahan yang
menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan atau hal yang di
selidiki, di pandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu yang mencakup apa
saja baik hal-hal yang konkrit ataupun yang abstrak.
Menurut Dardiri bahwa objek material adalah segala
sesuatu yang ada, baik yang ada dalam pikiran, ada dalam kenyataan maupun ada
dalam kemungkinan. Segala sesuatu yang ada itu di bagi dua, yaitu :
1) Ada
yang bersifat umum, yakni ilmu yang menyelidiki tentang hal yang ada pada
umumnya.
2) Ada
yang bersifat khusus yang terbagi dua yaitu ada secara mutlak dan tidak mutlak
yang terdiri dari manusia dan alam.
b) Objek
Formal Filsafat Ilmu
Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang
subjek menelaah objek materialnya. Setiap ilmu pasti berbeda dalam objek
formalnya. Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat ilmu pengetahuan yang
artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatiannya terhadap problem mendasar ilmu
pengetahuan. Seperti apa hakikat ilmu pengetahuan, bagaimana cara
memperoleh kebenaran ilmiah dan apa fungsi ilmu itu bagi manusia. Problem
inilah yang di bicarakan dalam landasan pengembangan ilmu pengetahuan yakni
landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis.
3. Tujuan
Filsafat Ilmu
Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang ditandai semakin menajamnya spesialisasi ilmu maka filsafat ilmu sangat
diperlukan. Sebab dengan mempelajari filsafat ilmu, kita akan menyadari
keterbatasan diri dan tidak terperangkap ke dalam sikap oragansi intelektual.
Hal yang lebih diperlukan adalah sikap keterbukaan kita, sehingga mereka dapat
saling menyapa dan mengarahkan seluruh potensi keilmuan yang dimilikinya untuk
kepentingan bersama.
Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat yang membicarakan
tentang hakikat ilmu yang mengandung manfaat sebagai berikut :
a. Filsafat
ilmu sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis
terhadap kegiatan ilmiah.
b. Filsafat ilmu
merupakan usaha merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan metode
keilmuan. Sebab kecenderungan kita menerapkan suatu metode ilmiah
tanpa memperhatikan struktur ilmu pengetahuan itu sendiri. Satu sikap yang
diperlukan disini adalah menerapkan metode ilmiah yang sesuai dengan struktur
ilmu pengetahuan bukan sebaliknya.
c. Filsafat
ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan. Setiap metode ilmiah
yang dikembangkan harus dapat dipertanggungjawabkan secara logis-rasional, agar
dapat dipahami dan dipergunakan secara umum.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait,
baik secara substansial maupun historis, karena kelahiran ilmu tidak lepas dari
peranan filsafat. Filsafat telah merubah pola pemikiran bangsa Yunani dan umat
manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Perubahan pola pikir
tersebut membawa perubahan yang cukup besar dengan ditemukannya hukum-hukum
alam dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan bagaimana perubahan-perubahan itu
terjadi.
Filsafat ilmu adalah tinjauan kritis tentang pendapat ilmiah
dengan menilai metode-metode pemikirannya secara netral dalam kerangka umum
cabang pengetahuan intelektual.
Dari sinilah lahir ilmu-ilmu pengetahuan yang selanjutnya
berkembang menjadi lebih terspesialisasi dalam bentuk yang lebih kecil dan
sekaligus semakin aplikatif dan terasa manfaatnya. Filsafat sebagai induk dari
segala ilmu membangun kerangka berfikir dengan meletakkan tiga dasar utama,
yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi. Dan objek dari
filsafat ilmu dapat terbagi menjadi dua yaitu objek material dan objek formal.
DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu,
RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2012, Cet 11.
Feibleman, James K, Ontologi dalam
Dagobert D. Runes, Dictinary Philoshopy, Totowa New Jersey , Little Adam,
1976.
Gazalba, Sidi, Sistematika Filsafat
Pengantar kepada Teori Pengetahuan, Bulan Bintang, Jakarta, 1973.
Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat
Pendidikan, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1997, cet-1.
Munawwir, Ahmad Warson, Kamus Arab –
Indonesia, Al-Munawwir, Yogyakarta, 1984.
Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya
di Indonesia, Bumi Aksara, Jakarta, 2010.
Suriasumatri, Jujun S, Filsafat Ilmu,
Pustaka Sinar harapan, Jakarta, 1998, cet 1.
Salam, Burhanuddin, Pengantar Filsafat,
Bina Aksara, Jakarta, 1988