Anak adalah
merupakan AMANAT dari Allah. Maka tidaklah ringan beban orang tua yang telah
mendapat amanat dari Allah itu. Dan karena amanat maka hendaknya dipelihara dan
dirawat sesuai dengan pesan dari pihak yang memberi amanat, yang dalam hal ini
ialah Allah SWT.
Untuk itu, kita
sebagai orang tua dituntut untuk mendidik dan membimbing anak-anak kita kepada
Agama yang sesuai dengan fitrah (naluri manusia) agar mereka memiliki akhlak
mulia dan menjadi manusia yang bertaqwa. Mereka adalah bagaikan kertas putih.
Kitalah yang nantinya akan memberikan corak warna lukisan apa yang kita
hendaki. Sebagaimana Teori Tabularasa, dimana terbukti dengan anak yang sejak
kecil hidup dalam lingkungan Yahudi akan menjadi Yahudi, yang hidup dalam
lingkungan Nasrani juga akan menjadi Nasrani, Majusi dan seterusnya.
Oleh karenanya
mendidik anak sebaiknya dimulai sejak dini, karena perkembangan jiwa anak telah
mulai tumbuh sejak dia kecil, sesuai dengan fitrahnya. Dengan demikian maka
fitrah manusia itu kita salurkan, kita bimbing dan kita juruskan kepada jalan
yang seharusnya sesuai dengan arahnya. Karena sebagai orangtua maupun guru
(pendidik di sekolah) harus benar-benar mengetahui bahwa begitu besarnya
tanggung jawabnya kepada Allah’azza wa jalla terhadap pendidikan anak-anaknya.
Tentang perkara ini, Allah azza wa jalla
berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6)
Dan di dalam hadits yang diriwayatkan
oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya : “Setiap di antara kalian
adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban”
Untuk itu -tidak bisa tidak-, seorang
guru atau orang tua harus tahu apa saja yang harus diajarkan kepada seorang
anak serta bagaimana metode yang telah dituntunkan oleh junjungan umat ini,
Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan sehubungan dengan pemaparan di atas,
maka sebagai orang tua apabila ingin bertanggung jawab terhadap amanat yang
dibebankan kepadanya dengan hadirnya seorang anak agar menjadi seorang anak
yang baik, yang shaleh/shaleha, dan berbakti kepada orang tuanya, maka tidak
ada alternatif lain bagi orang tua selain mendidik dan membimbing anak-anaknya
kepada taqwallah.
CARA MENDIDIK DAN MEMBIMBING ANAK DALAM
ISLAM
Sebagai
orangtua maupun guru hendaknya mengetahui betapa besarnya tanggung-jawab mereka
di hadapan Allah ‘azza wa jalla terhadap pendidikan putra-putri islam.
Tentang perkara ini, Allah azza wa jalla
berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6)
Dan di dalam hadits yang diriwayatkan
oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap di antara kalian adalah pemimpin
dan akan dimintai pertanggungjawaban”
Untuk itu -tidak bisa tidak-, seorang
guru atau orang tua harus tahu apa saja yang harus diajarkan kepada seorang
anak serta bagaimana metode yang telah dituntunkan oleh junjungan umat ini,
Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa tuntunan cara
mendidik anak dalam Islam tersebut antara lain:
o Menanamkan
Tauhid dan Aqidah yang Benar kepada Anak
Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri
bahwa tauhid merupakan landasan Islam. Apabila seseorang benar tauhidnya, maka
dia akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, tanpa tauhid
dia pasti terjatuh ke dalam kesyirikan dan akan menemui kecelakaan di dunia
serta kekekalan di dalam adzab neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan
mengampuni dosa syirik, dan mengampuni yang lebih ringan daripada itu bagi
orang-orang yang Allah kehendaki” (An- Nisa: 48)
Oleh karena itu, di dalam Al-Quran pula
Allah kisahkan nasehat Luqman kepada anaknya. Salah satunya berbunyi,
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezhaliman yang besar”.(Luqman: 13)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
sendiri telah memberikan contoh penanaman aqidah yang kokoh ini ketika beliau
mengajari anak paman beliau, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam
sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dengan sanad yang
hasan. Ibnu Abbas bercerita,
“Pada suatu hari aku pernah berboncengan
di belakang Nabi (di atas kendaraan), beliau berkata kepadaku: “Wahai anak, aku
akan mengajari engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan
menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika
engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong, minta
tolonglah kepada Allah. Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia)
berkumpul untuk memberikan satu pemberian yang bermanfaat kepadamu, tidak akan
bermanfaat hal itu bagimu, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan
bermanfaat bagimu). Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan
manusia)berkumpul untuk mencelakakan kamu, tidak akan mampu mencelakakanmu
sedikitpun, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan sampai dan
mencelakakanmu). Pena telah diangkat, dan telah kering lembaran-lembaran”.
Perkara-perkara yang diajarkan oleh
Rasulllah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas di atas adalah perkara
tauhid.
Termasuk aqidah yang perlu ditanamkan
kepada anak sejak dini adalah tentang di mana Allah berada. Ini sangat penting,
karena banyak kaum muslimin yang salah dalam perkara ini. Sebagian mengatakan
bahwa Allah ada dimana-mana. Sebagian lagi mengatakan bahwa Allah ada di hati
kita, dan beragam pendapat lainnya. Padahal dalil-dalil menunjukkan bahwa Allah
itu berada di atas arsy, yaitu di atas langit. Dalilnya antara lain,
“Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy”
(Thaha: 5)
Makna peristiwa adalah tinggi dan
meninggi sebagaimana di dalam riwayat Al-Bukhari dari tabi’in.
Adapun dari hadits,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bertanya kepada seorang budak wanita, “Dimana Allah?”. Budak tersebut menjawab,
“Allah di langit”. Beliau bertanya pula, “Siapa aku?” budak itu menjawab,
“Engkau Rasulullah”. Rasulllah kemudian bersabda, “Bebaskan dia, karena
sesungguhnya dia adalah wanita mu’minah”. (HR. Muslim dan Abu Daud).
o Mengajari Anak
untuk Melaksanakan Ibadah
Hendaknya sejak kecil putra-putri kita
diajarkan bagaimana beribadah dengan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam. Mulai dari tata cara bersuci, shalat, puasa serta
beragam ibadah lainnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda,
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian
melihat aku shalat” (HR. Al-Bukhari).
“Ajarilah anak-anak kalian untuk shalat
ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika mereka berusia
sepuluh tahun (bila tidak mau shalat-pen)” (Shahih. Lihat Shahih Shahihil Jami’
karya Al-Albani).
Bila mereka telah bisa menjaga
ketertiban dalam shalat, maka ajak pula mereka untuk menghadiri shalat
berjama’ah di masjid. Dengan melatih mereka dari dini, insya Allah ketika
dewasa, mereka sudah terbiasa dengan ibadah-ibadah tersebut.
o Mengajarkan Al-Quran,
Hadits serta Doa dan Dzikir yang Ringan kepada Anak-anak
Dimulai dengan surat Al-Fathihah dan
surat-surat yang pendek serta doa tahiyat untuk shalat. Dan menyediakan guru
khusus bagi mereka yang mengajari tajwid, menghapal Al-Quran serta hadits.
Begitu pula dengan doa dan dzikir sehari-hari. Hendaknya mereka mulai
menghapalkannya, seperti doa ketika makan, keluar masuk WC dan lain-lain.
o Mendidik Anak dengan
Berbagai Adab dan Akhlaq yang Mulia
Ajarilah anak dengan berbagai adab
Islami seperti makan dengan tangan kanan, mengucapkan basmalah sebelum makan,
menjaga kebersihan, mengucapkan salam, dll.
Begitu pula dengan akhlak. Tanamkan
kepada mereka akhlaq-akhlaq mulia seperti berkata dan bersikap jujur, berbakti
kepada orang tua, dermawan, menghormati yang lebih tua dan sayang kepada yang
lebih muda, serta beragam akhlaq lainnya.
o Melarang Anak dari Berbagai
Perbuatan yang Diharamkan
Hendaknya anak sedini mungkin
diperingatkan dari beragam perbuatan yang tidak baik atau bahkan diharamkan,
seperti merokok, judi, minum khamr, mencuri, mengambil hak orang lain, zhalim,
durhaka kepada orang tua dan segenap perbuatan haram lainnya.
Termasuk ke dalam permasalahan ini
adalah musik dan gambar makhluk bernyawa. Banyak orangtua dan guru yang tidak
mengetahui keharaman dua perkara ini, sehingga mereka membiarkan anak-anak
bermain-main dengannya. Bahkan lebih dari itu –kita berlindung kepada Allah-,
sebagian mereka menjadikan dua perkara ini sebagai metode pembelajaran bagi
anak, dan memuji-mujinya sebagai cara belajar yang baik!
Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam pernah bersabda tentang musik,
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ اَلْحِرَ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
“Sungguh akan ada dari umatku yang
menghalalkan zina, sutra, khamr dan al-ma’azif (alat-alat musik)”. (Shahih, HR.
Al-Bukhari dan Abu Daud).
Maknanya: Akan datang dari muslimin
kaum-kaum yang meyakini bahwa perzinahan, mengenakan sutra asli (bagi
laki-laki, pent.), minum khamar dan musik sebagai perkara yang halal, padahal
perkara tersebut adalah haram.
Dan al-ma’azif adalah setiap alat yang
bernada dan bersuara teratur seperti kecapi, seruling, drum, gendang, rebana
dan yang lainnya. Bahkan lonceng juga, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
“Lonceng itu serulingnya syaithan”. (HR.
Muslim).
Adapun tentang gambar, guru terbaik umat
ini (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) telah bersabda,
كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ، يَجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُوْرَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ
“Seluruh tukang gambar (mahluk hidup) di
neraka, maka kelak Allah akan jadikan pada setiap gambar-gambarnya menjadi
hidup, kemudian gambar-gambar itu akan mengadzab dia di neraka jahannam”(HR.
Muslim).
إِنِّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَاباً عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَلْمُصَوِّرُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang paling
keras siksanya di sisi Allah pada hari kiamat adalah para tukang gambar.” (HR.
Muslim).
Oleh karena itu hendaknya kita melarang
anak-anak kita dari menggambar mahkluk hidup. Adapun gambar pemandangan, mobil,
pesawat dan yang semacamnya maka ini tidaklah mengapa selama tidak ada gambar
makhluk hidupnya.
o Menanamkan Cinta Jihad
serta Keberanian
Bacakanlah kepada mereka kisah-kisah
keberanian Nabi dan para sahabatnya dalam peperangan untuk menegakkan Islam
agar mereka mengetahui bahwa beliau adalah sosok yang pemberani, dan
sahabat-sahabat beliau seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali dan Muawiyah telah
membebaskan negeri-negeri.
Tanamkan pula kepada mereka kebencian
kepada orang-orang kafir. Tanamkan bahwa kaum muslimin akan membebaskan Al-Quds
ketika mereka mau kembali mempelajari Islam dan berjihad di jalan Allah. Mereka
akan ditolong dengan seizin Allah.
Didiklah mereka agar berani beramar
ma’ruf nahi munkar, dan hendaknya mereka tidaklah takut melainkan hanya kepada
Allah. Dan tidak boleh menakut-nakuti mereka dengan cerita-cerita bohong, horor
serta menakuti mereka dengan gelap.
o Membiasakan
Anak dengan Pakaian yang Syar’i
Hendaknya anak-anak dibiasakan
menggunakan pakaian sesuai dengan jenis kelaminnya. Anak laki-laki menggunakan
pakaian laki-laki dan anak perempuan menggunakan pakaian perempuan. Jauhkan
anak-anak dari model-model pakaian barat yang tidak syar’i, bahkan ketat dan
menunjukkan aurat.
Tentang hal ini, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang meniru sebuah kaum,
maka dia termasuk mereka.” (Shahih, HR. Abu Daud)
Untuk anak-anak perempuan, biasakanlah
agar mereka mengenakan kerudung penutup kepala sehingga ketika dewasa mereka
akan mudah untuk mengenakan jilbab yang syar’i.
Demikianlah
beberapa tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mendidik
anak. Hendaknya para orang tua dan pendidik bisa merealisasikannya dalam
pendidikan mereka terhadap anak-anak. Dan hendaknya pula mereka ingat, untuk
selalu bersabar, menasehati putra-putri Islam dengan lembut dan penuh kasih
sayang. Jangan membentak atau mencela mereka, apalagi sampai mengumbar-umbar
kesalahan mereka.
No comments:
Post a Comment